Malioboro, Nama Jalan Ikonik Yogyakarta

Belum ke Jogja jika anda belum mengunjungi Jl. Malioboro dan Yogyakarta KM 0. Mungkin itu anggapan bagi mereka yang berkunjung ke suatu daerah tapi tidak mengunjungi tempat-tempat ikonik yang benar-benar menggambarkan ciri khas daerah tersebut.

Jalan Malioboro merupakan salah satu nama dari kawasan jalan yang membentang dari Tugu Jogja hingga ke perempatan kantor pos Jogja. Nama jalan ini sangat populer di kalangan wisatawan karena kawasan tersebut menjadi salah satu kawasan yang ramai dengan pedagang kali lima yang menjajakan berbagai macam kerajinan khas joga, bisa juga dibilang pusat oleh-oleh khas Jogja.

Saya dan Darian sudah berencana untuk mengunjungi Malioboro (Jalan Malioboro) setelah agenda buka puasa dengan Rama (aka Rania Amina), setelah beribada, kami berpamitan untuk melanjutkan agenda selanjutnya, mlaku-mlaku menyang Malioboro.

Kami berangkat dari Warung Nasi Bambu ABSAL langsung menuju ke kawasan Malioboro mengendarai taksi. Hanya memerlukan waktu sekitar 13 menit, kami sudah di kawasan yang ramai dan meriah, Jalan Malioboro.

Pemandangan baru nan moderm disuguhkan langsung ketika kami sampai, sangat berbeda ketika untuk pertama kalinya saya kesini, tepatnya ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Secara tidak langsung ini kunjungan kedua saya di Jogja.

Jl. Malioboro tak pernah sepi dengan pengunjung

Orang-orang berswafoto, berjalan, bergurau, musisi jalanan bersenjata akustik, pedagang makanan, kerajinan, toko-toko besar, yah, inilah kemeriahan Malioboro, kawasan city of tolerant, bikin kangen, kangen untuk mengulagi lagi. Seperti lirik lagu Yogyakarta dari Kla Projek.

Kami berjalan sembari menikmati suasananya, tak terasa Jalan Malioboro sudah terlewati, kami memutuskan untuk memanfaatkan kursi-kursi umum untuk melepas lelah. Sesekali musisi jalanan menghibur kami dengan lagu andalannya.

Gedung pertunjukan Ketoprak

Terbuai dengan melodi akustik, saya-pun teringat dengan titipan orang rumah untuk dibelikan oleh-oleh bakpia Jogja, kami memutuskan untuk mencari lokasi toko Bakpia Pathok bernomor 25. Asal anda tahu, Bakpia Pathok memiliki banyak cabang dengan nomor yang berbeda, namun jangan khawatir soal cita rasa.

Dua kotak bakpia pathok sudah di tangan saya, tiga kotak di tangan Darian, cukup untuk buah tangan untuk keluarga.

Kami memutuskan kembali ke penginapan, setelah memperoleh oleh-oleh yang diinginkan, beristirahat untuk bersiap menyambut esok hari, karena sebelum berangkat ke AMIKOM, kami memiliki waktu beberapa jam untuk berkunjung ke Jogja KM 0 atau Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.