Cerita Mudik Kesiangan Saya dan Keluarga Ke Blitar

Mudik kesiangan mungkin kata yang tepat untuk mengawali agenda mudik saya dan keluarga, kesiangan berarti terlambat bangun atau dalam konteks ini mudik tidak pada musimnya.

Perjalanan terakhir keteta api Penataran jurusan Blitar – Surabaya PP via Malang telah mengantarkan kami sampai di stasiun Gedangan. Alhamdulillah. Pengalaman yang luar biasa di tanah tempat disemayamkannya plokamator kemerdekaan Republik Indonesia, yang akrab disapa Bung Karno.

Perjalanan ini sekaligus sebagai kunjungan pertama saya ke rumah Bude. Suasana yang tenang, udara yang masih segar, jauh dari kebisingan meskipun rumahnya berada di pusat kota dan hanya berjarak sekitar seratus meter dari alun-alun kota Blitar.

Perjalanan Hari Pertama, KA Penataran, Makam Bung Karno, Candi Penataran Hingga Istana Gebang

Berbagai persiapan telah kami siapkan pada Kamis malam (05/07/2018), begitupulah dengan saya, karena esok pagi adalah hari yang sangat saya nanti-nantikan. Saya akan berkunjung ke rumah bude di Blitar dengan kedua orang tua dan adik. Bisa dibilang ini rangkaian mudik kesiangan kami.

T-shirt, celana, perlengkapan mandi, tak lupa seperangkat laptop lengkap dengan charger-nya turut melengapi dah memenuhi tas mungil, dengan harapan dapat menemukan secercah inspirasi untuk bekal penyusunan proposal tugas akhir saya. Ternyata itu hanya ekspetasi saja.

Perjalanan Hari Pertama Dengan KA Penataran

Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba juga, Rabu pagi (06/07/2018) tepat jam 6:30 WIB kami berangkat menuju tempat penitipan motor dekat stasiun, setelah memarkirkan motor dan menerima kartu parkir, kami berjalan kaki menuju ruang tunggu stasiun Gedangan.

Waktu masih menunjukkan sekitar 7:15 WIB, jadwal sampainya KA Penataran di stasiun Gedangan sesuai dengan tiket kereta adalah jam 8:06 WIB, masih sekitar setengah jam lebih, kami habiskan dengan mengobrol ngalor-ngidul.

Pemberitahuan melalui pengeras suara mematahkan obrolan kami, KA Penataran akan tiba di stasiun Gedangan dalam tiga menit lagi, satpam stasiun menghimbau kepada para penumpang untuk segera bersiap-siap. Kami bergegas menuju ke jalur dua.

Tampak dari kejauhan sorot lampu kereta tampak sumringah menyambut calon penumpang yang akan menaikinya pagi itu. Setelah kereta berhenti dengan sempurna, kami masuk ke gerbong EKO-2 dengan bergantian. Kami berbagi tugas, saya dan ayah saya membawa tas dan perlengkapan lain, sedangkan ibu dan adik saya bertugas mencari lokasi tempat duduk yang sudah tertera di tiket. Setelah menemukan tempat duduk yang sesuai, saya menaruh perlengkapan di tempat yang telah disediakan, satu menit kemudian, KA Penataran melaju perlahan meninggalkan stasiun Gedangan.

Blitar, we are coming!

KA Penataran terus melaju, berhenti di stasiun-stasiun tertentu, melewati tanggul lumpur Lapindo dengan perlahan, sesekali klakson dibunyikan oleh masinis saat melewati persimpangan jalan. Beberapa destinasi wisata dilewati begitu saja, kampung warna-warni, perbukitan, hingga bendungan dan PLTA Karang Kates.

Tiba-tiba suasana menjadi gelap, hanya tinggal lampu-lampu kereta yang menjadi sumber cahaya utama. Beberapa saat suasana kembali seperti semula, setelah mencari tahu, ternyata KA Penataran telah melewati terowongan ‘Karang Kates 2’. Kejadian kembali terulang untuk yang kedua kalinya, hanya saja, terowongan kedua ini memiliki beberapa set pencahayaan dari pada terowongan pertama.

Perjalanan masih terus berlanjut, KA Penataran kembali harus berhenti di beberapa stasiun lagi, stasiun Kesamben, Wlingi, Talun, Garum, dan akhirnya kami tiba di Stasiun Blitar. Kami mengambil barang-barang dari bagasi dan bergegas menuju toilet stasiun untuk keperluan tune up.

Badan sudah segar kembali, kami bergegas keluar stasiun dan mencari tempat yang sedikit nyaman dari keramaian untuk menghubungi Bude, seperti yang diminta Bude sebelumnya, kalau sudah sampai di stasiun Blitar, Ibu diminta untuk mengabarinya.

Belum sampai kami melangkah jauh meninggalkan stasiun, tiba-tiba ada yang memanggil nama saya, saya clingukan dan ternyata Pak De sudah ada di stasiun untuk menjemput kami. Kami bergegas masuk ke mobil dan meluncur ke rumah beliau di Jl. Merapi, dekat dengan alun-alun kota, dekat juga dengan stasiun Blitar, tentunya dengan berkendara bukan jalan kaki.

Suasana yang berbeda 90º sangat terasa bila dibandingkan dengan suasana di rumah saya. Cuaca cenderung berawan, angin masih terasa segar bak hawa pegunungan, lantainya juga terasa sejuk. Kami menuju kamar yang sudah disediakan bude, menata barang bawaan dan saya langsung berbaring di lantai untuk melepas penat.

Museum Presiden Soekarno Blitar

Hampir saja saya ketiduran. Sayup-sayup saya mendengarkan percakapan Bude dengan Ibu. Rencananya sore ini kami akan diajak berkunjung ke lokasi Makam Bung Karno. Seketika rasa kantuk hilang, setelah memastikan kalau itu bukan mimpi, saya bergegas membersihkan badan. Ternyata bukan suasanya saja yang oke punya, air-nya juga sejuk, cenderung dingin nan jernih.

Saya siap, Adik, Ibu, dan Ayah juga siap, Bude, Pak De dan keponakan saya juga sudah siap. Kami masuk ke mobil, mundur beberapa meter dan meluncur ke jalan utama kota Blitar.

Adapun destinasi yang akan kami tuju pertama adalah Museum Presiden Soekarno Blitar. Museum ini juga berada di satu area dengan tempat bersemayamnya presiden pertama Republik Indonesia. Saya sudah pernah berziarah satu kali, namun belum pernah masuk ke museumnya. Pada kesematan kali ini, kami lebih memfokuskan menikmati isi museum. Saya sendiri bisa dibilang tidak berpakaian sopan untuk masuk ke area persemayaman, saat itu saya hanya mengenakan jaket jemper, berkaos, bercelana jeans dansandal butut. Meski begitu, tentu saya tidak lupa mengucapkan salam dari hati saat mendekati area persemanyaman Bung Karno.

Setelah puas melihat-lihat beberapa isi museum, kami-pun bergegas ke tempat Pak De memarkirkan mobilnya, namun sebelum itu Bude mengajak Ibu untuk sekedar melihat-lihat di pasar, pusat oleh-oleh yang tempatnya berada di jalur keluar dari persemayaman Bung Karno. Kami melawan arus gelombang peziarah, melewati banyak pedagang yang menjajakan dagangannya, buah nanas Blitar, blimbing Blitar, baju, mainan, dan lain sebagainya, namun sepertinya Ibu tidak menemukan barang yang dikehendakinya, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke pedagang buah nanas, buat oleh-oleh kata-nya.

Jejak Sejarah Candi Penataran

Satu ikat buat nanas berisi sekitar sepuluh buah dengan harga Rp. 20000-, yang dibeli Ibu saya tenteng menuju tempat Pak De memarkirkan mobilnya. Kami bersiap menuju destinasi selanjutnya.

Adapun destinasi kedua yang akan kami tuju adalah Candi Penataran. Terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Menurut catatan sejarah yang tertempel pada papan khusus di area candi yang berjudul “Kompleks Candi Penataran” menyebutkan, kompleks Candi Penataran dilaporkan oleh Sir Thomas Stamford Raffles dalam History of Java dimana disebutkan bahwa pada tahun 1815 Dr. Horsfield menemukan reruntuhan Candi Hindu di Penataran. Dari sisa-sisa struktur dan artefak yang ada dilingkungan kompleks candi diketahui bahwa kompleks candi ini terdiri dari beberapa bangunan yang pendiriannya tidak dilakukan secara serentak, namun dilakukan bertahap dalam kurun waktu yang relatif panjang. Diperkirakan kompleks candi ini dibangun mulai dari abad ke-12 M. sampai abad ke-15 M. Dengan demikian Kompleks Candi Penataran telah dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Kadiri dan terus dilanjutkan pada masa pemerintahan Kerajaan Singosari dan berakhir pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Masih seputar Kompleks Candi Penataran, kompleks Candi Penataran ini memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan, hal ini didasarkan isi prasasti Palah yang menyatakan bahwa Raja Srengga (salah satu Raja di Kerajaan Kadiri) sering melakukan pemujaan di tempat ini, hal ini juga didukung keterangan dari kitab Nagarakertagama yang menyebutkan bahwa bangunan suci Palah (Penataran) merupakan bangunan Dharma Ipas yaitu bangunan suci para Resi Saiwa-Sugata yang didirikan di atas tanah wakaf sebagai tempat pemujaan.

Sesampainya di kompleks Candi Penataran, kami melewati pintu gerbang danmelewati arca dwarapala, Pak De langsung menuju tempat pendaftaran pengunjung, setelah itu kami bisa menikmati keindahan Candi Penataran yang dibangun diatas tanah seluar (kurang lebih) 180 m x 130 m.

Berfoto bersama, itulah pilihan kami untuk mengabadikan momen bersama sekaligus mengasah kemampuan photografi saya. Kami berjalan di jalur setapak melewati Bale Agung di halaman 1 komplek Candi Penataran, yaitu batu besar berbahan batu andresit. Kami memutuskan untuk berfoto di candi sebelah selatan Bale Agung.

Berlanjut ke bagaian halaman dua dari komplek Candi Penataran, terdapat candi dengan bentuk persegi empat yang diberi nama Candi Naga. Kami langsung menuju ke halaman ke-3, sebuah candi yang sangat besar, berdenah persegi empat dengan ukuran 32.5 m x 29.5 m dan memiliki tinggi 7.2 m.

Hari semakin sore, kami bergegas kembali ke mobil untuk menuju destinasi ke-3, namun sebelum itu saya tergoda untuk mencoba jajanan lokal ‘Cilok Penataran’, kalau didaerah saya lebih dikenal dengan sebutan ‘pentol’. Rasanya enak dipadu dengan gurihnya bawang goreng, mantap abis.

Istana Gebang, Rumah Orang Tua Bung Karno

Kami beranjak meninggalkan Candi Penataran dalam kenangan. Saya menikmati pentol yang saya beli tadi didalam mobil, terdiri dari tahu pentol (tahu goreng yang berisi adonan pentol) dan pentol, sambal merah, kecap, irisan bawang daun dan bawang goreng, sungguh kenikmatan tiada tara. Mobil melaju sedang menuju ke Istana Gebang, rumah peninggalan orang tua Bung Karno.

Istana Gebang terletak di Jl. Sultan Agung No. 59, Kampung Gebang, Kelurahan Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kabupaten Blitar. Dinamakan Istana Gebang mengikuti nama-nama tempat yang berkaitan dengan kegiatan presiden Republik Indonesia pertama, Bung Karno, seperti Istana Merdeka, Istana Negara dan lain sebagainya.

Beberapa menit waktu yang dibutuhkan dari Candi Penataran ke Istana Gebang ini, setelah Pak De memarkirkan mobil, kami langsung menuju Istana Gebang, namun sebelum itu, kegiatan pengabdian momen harus dilaksanakan. Jepret sama, Jepret sini. Saat memasuki kompleks Istana Gebang, pengunjung akan melihat pohon raksasa yang masih kokoh berdiri di halaman istana, nama pohon tersebut adalah Pohon Gada. Persis di depan istana atau disebelah kiri pohon gada terdapat patung Bung Karno.

Mengutip sejarah singkat dari banner yang terpasang di depan istana, dari buku yang berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” menerangkan bahwa Istana Gebang mulai ditempati oleh keluarga Bung Karno antara tahun 1917 – 1919. Rumah tersebut (sekarang dijuluki Istana Gebang) dibeli dari seorang warga Belanda bernama CH. Portier seorang pegawai kereta api di Blitar. Dari berbagai sumber lain (pembicaraan) rumah tersebut dibangun beriringan dengan pembangunan stasiun kereta api Blitar di tahun 1884.

Saya tidak sabar untuk segera melihat seperti apa suasana di dalam Istana Gebang ini. Saat akan memasuki istana, pengunjung diharuskan melepaskan alas kaki, dengan maksud untuk selalu menjaga kondisi lantai agar selalu bersih dan terawat. Pengunjung juga diharuskan mengisi buku tamu (jika datang dengan rombongan, cukup perwakilan saja) untuk keperluan dokumentasi.

Setelah menaiki tangga, pengunjung akan disuguhkan dengan suasana ruang tamu yang megah, lengkap dengan meja dan kursi serta beberapa foto kuno maupun lukisan di kanan kiri tembok ruangan. Diruangan tamu ini juga terdapat kamar khusus tamu laki-laki.

Harus diingat, pengunjung dilarang untuk menduduki kursi yang ada untuk menjaga keawetan dan keasliannya. Inilah aset berharga dari peninggalan nenek moyang kita.

Masuk ke dalam terdapat dua kamar, kamar untuk tamu perempuan, sebelah kiri dan kamar yang digunakan Bung Karno dimasa mudanya.

Saya masuk lagi ke ruang keluarga, tidak kalah megah dengan ruang tamu-nya, kursi-kursi dan meja tampak tertata sangat rapi. Lemari yang berisi dengan foto-foto kuno masih berdiri, seolah rayap ataupun kutu kayu juga turut menjaganya. Pada ruangan ini juga terdapat meja kerja dan seperangkat alat kerja milik Bung Karno, yang menarik adalah mesin ketik manualnya. Ada juga dua kamar lain, yaitu kamar orang tua Bung Karno dan satu kamar lain yang juga digunakan oleh Bung Karno setelah ibundanya meninggal dunia.

Saya masuk lebih dalam lagi. Kali ini saya sampai di ruang makan dan dapur. Pengunjung seolah memasuki ruang dan waktu saat kejayaan keluarga Bung Karno. Perangkat musik gamelan tua juga terdapat di pojok ruang meja makan, seolah menunjukkan bahwa keluarga Bung Karno suka dengan musik gamelan.

Saya menyudahi penjelajahan di dalam Istana Gebang. Saya beralih ke halaman depan istana yang berdiri patung Bung Karno, disitu kami mengabadikan momen bersama. Oiya, sebelah kiri patung Bung Karno terdapat gong besar, saya tidak sempat mencari tahu tentangnya. Setelah itu saya beralih ke garansi tempat terparkirnya dua mobil kuno, mobil putih dan mobil sedan biru tua terparkir dengan rapi di tempatnya.

Hari sudah semakin sore, kami memutuskan untuk mengakhiri kunjungan kami di Istana Gebang, kami masuk ke mobil dan kembali ke rumah di Jl. Merapi.

Sesampainya di rumah, kami mengistirahatkan badan. Menanti maghrib berkumandang dan menyusun rencana yang akan kami lakukan sembari mengobrol di ruang tamu.

Kami merencanakan jalan-jalan ke alun-alun kota pada malam nanti. Setelah itu azan isya’ dikumandangkan, kita berangkat dengan berjalan kaki. Memang karena jaraknya sangat dekat. Setelah sampai di depan Pendopo Agung “Ronggo Hadinegoro” Kabupaten Blitar, kami menyebrang dan langsung masuk ke alun-alun.

Melalui jalan tengah di dalam alun-alun, tampak beberapa keluarga menikmati suasana malam alun-alun. Beberapa anak kecil bermain umbul-umbul berlampu. Saya terus menyusuri jalan tengah alun-alun menuju ke Taman Pecut yang letaknya di depan alun-alun.

Saya menyebrang jalan raya melalui tempat penyebrangan, zebra cross, sesampainya di Taman Pecut tampak banyak pengunjung yang membawa keluarga maupun koleganya menikmati taman lampu mini maupun air mancurnya. Saya beberapa kali mengambil momen dibantu adik.

Dinamakan taman pecut, karena di taman tersebut terdapat patung tangan memegang cambuk, dalam bahasa Jawa, pecut berarti cambuk. Mungkin maksudnya adalah mencambuk semangat kawula muda Blitar untuk terus semangat menjaga kesatuan NKRI ini, karena NKRI harga mati yang tidak dapat ditawar.

Setelah merasa cukup menikmati keindahan lelampuan di Taman Pecut, kami kembali ke rumah Bude, namun sebelum itu, saya membeli cilok, Ibu saya membeli jagung rebus. Sesampainya di rumah Bude, kami ditemani Bude menikmati cilok dan jagung rebus sambil duduk di teras rumah menikmati suasana yang tenang dan sejuk.

Sesaat kemudian Bude menyuruh kami untuk makan malam dan beristirahat, karena besok pagi kami akan kembali diajak ke Kampung Coklat dan Pantai Serang. Selepas makan malam kami bersantai di kamar, saya menghidupkan komputer untuk keperluan menyalin foto-foto yang ada di handphone.

Satu jam kemudian, kami beranjak istirahat. Saya berharap malam dapat segera berlalu dan mempertemukan saya dengan pagi yang ceria.

Hari Kedua, Manisnya Kampung Coklat dan Rindangnya Pantai Serang

Saya terbangun ketika udara dingin menerobos memasuki kamar lewat ventilasi di atas gorden kamar. Hari sudah mulai pagi, kokokan ayam jantar dan kicauan burung peliharaan Bude membuat pagi terasa lengkap, ditambah udara yang begitu sejuk tanpa suara bising karena jarang kendaraan bermotor yang lewat, benar-benar pagi yang sempurna.

Saya menikmati pagi dengan berjalan-jalan di halaman samping rumah sembari menikmati kehangatan cahaya mentari pagi. Setelah merasa cukup saya bergegas membersihkan diri. Asal kalian tahu saja, brrr… Air-nya dingin get, seperti baru keluar dari kulkas.

Selepas membersihkan badan, saya bersantai di teras belakang rumah untuk sekedar mengakses beberapa berita pagi dari handphone dan sesekali mencari hiburan di sosial media. Ibu tampak masih membantu Bude di dapur, ayah saya sudah selesai membersihkan badan, tersisa Adik dan Ibu yang menyusul kemudian.

Sarapan sudah dihidangkan Bude diatas meja makan, beliau kemudian menyuruh saya untuk segera sarapan dan bersiap-siap. Nikmat sekali hidangan sarapan pagi ini, nasi pecel Blitar, menu makanan paling enak ke-2 setelah Gado-gado kalau menurut saya, apalagi makannya langsung dengan tangan, nilai kenikmatannya bertambah.

Kami mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa menuju dua tujuan wisata. Ibu mengosongkan tas yang sejak kemaren saya bawa untuk baju ganti, mengisinya kembali dengan beberapa botol air mineral dan cemilan, lumayan, teman menikmati keindahan pantai, katanya.

Bude juga mempersiapkan barang-barang yang juga akan dibawa. Pak De juga sibuk menyiapkan dan membersihkan mobilnya.

Persiapan kami sudah final, kami memasukkan beberapa barang bawaan ke bagasi mobil, mengatur formasi tempat duduk. Saya di depan, Pak De yang mengemudikan mobil, Ibu saya, bude dan keponakan saya berada di tengah, sedangkan adik dan ayah saya berada di kursi paling belakang. Kami berangkat ke destinasi pertama, Kampung Coklat.

Manisnya Kampung Coklat

Jarak dari rumah Bude ke Kampung coklat berjarak sekitar 10 km atau 20 menit perjalanan. Pak De memilih jalan memutar untuk mampir sebentar membeli beberapa perlengkapan di toko bangunan, setelah beres, kami langsung meluncur menuju manisnya coklat di Kampung Coklat.

Ini merupakan kunjungan pertama saya, dalam benak saya, destinasi ini berupa perkebunan coklat yang sangat luas, dimana pengunjung dapat belajar bertanam, cara mengolah hingga cara memasarkannya. Beruntung pikiran saya tidak sepenuhnya salah.

Sesampainya di Kampung Coklat, Pak De memarkirkan mobilnya, kami turun sembari menunggu Pak De selesai memarkirkan mobil. Setelah itu kami bergegas menuju tempat yang disebut dengan Kampung Coklat.

Kampung Coklat terletak di Desa Plosorejo, Kelurahan Kademangan, Kecamatan Plosorejo, Kabupaten Blitar. Letaknya memang satu arah dengan Pantai Serang, sehingga memudahkan wisatawan yang berkunjung kesini, ditambah lagi letaknya berada di seberang jalan, tanpa masuk ke gang yang berbelit belit.

Memasuki wisata Kampung Coklat, pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp 5000-, untuk sekali masuk. Kami dibelikan karcis masuk oleh Pak De, setelah itu kami menuju gapura masuk yang bertuliskan Kampung Coklat, disitu ada petugas yang akan memeriksa dan memberikan tanda pada karcis masuk kita.

Pepohonan coklat menyambut kedatangan kami. Begitu rindang, karena atapnya telah ditutup dengan plafon transparan, tujuannya agar pengunjung tidak kebasahan saat hujan dan membiarkan cahaya matahari tetap memasuki kawasan yang ditumbuhi pohon coklat.

Kami langsung menuju ke tempat penjualan oleh-oleh khas Kampung Coklat, yakni aneka produk olahan coklat. Memasuki toko oleh-oleh Kampung Coklat saya kagum dengan desain ruangan yang mengadopsi kayu dalam implementasinya, lantai, rak produk, hiasan dinding, dan sebagainya. Di dalamnya juga menyediakan bioskop mini tempat pemutaran film tentang sejarah coklat di Indonesia.

Adik saya langsung meneteng produk coklat dengan aneka rasa dengan harga Rp. 100000-, saya masih mencari-cari produk yang sesuai hingga saya menemukannya, bubuk coklat murni dan siap seduh. Untuk produk Bubuk Coklat Murni dihargai sebesar Rp. 10000-, per bungkus dengan berat 100 gram. Sedangkan untuk produk Siap seduh-nya dihargai sebesar Rp. 12000 per bungkus (berisi empat sachet), produk ini dikemas dengan komposisi yang sudah dilengkapi krimer dan gula, sehingga dapat langsung dinikmati, baik dingin maupun panas. Cukup murah untuk ukuran kantong mahasiswa seperti saya.

Belum cukup sampai disitu, setelah selesai membayar belanjaan, kami meneruskan eksplorasi Kampung Coklat, sesekali kami berfoto. Kami melewati beberapa ruangan khusus karyawan dan beberapa untuk publik.

Untuk menarik minat wisatawan, Kampung Coklat juga menyediakan beragam wahana, baik setingkat edukasi seperti kursus memasak coklat maupun wahana bermain untuk anak-anak bahkan orang dewasa. Tersedia juga tempat duduk yang nyaman untuk sekedar mengobrol dengan keluarga. Kalau kebetulan merasa lapar pengunjung dapat memesan makanan kesukaannya, suka yang prasmanan atau yang konvensional, silahkan anda tentukan sendiri.

Anda belum merasa puas? Anda dapat bersantai dengan melakukan terapi ikan, cukup merogoh kocek sebesar Rp. 5000-, anda sudah dapat menikmatinya sepuas anda, asal tidak membawa ikan-ikan tersebut pulang ya.

Setelah merasa cukup, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya yaitu Pantai Serang.

Rindangnya Pantai Serang

Sesampainya kami di tampat parkir, kami bergegas masuk ke mobil, setelah membayar parkir kami melanjutkan perjalanan. Dari Kampung Coklat kami lurus ke arah timur, sekitar 1 jam perjalanan.

Perjalanan yang kami tempuh melewati hutan jati yang cukup luas, perbukitan yang menjulang tinggi juga mulai tampak dari kejauhan. Memasuki wilayah Klatak, jalan mulai agak sempit dan berkelok-kelok, maklum, daerah tersebut merupakan dataran tinggi perbukitan, harus berhati-hati dan tetap fokus. Keluar dari wilayah Klatak anda akan disambut dengan gapura “Selamat Datang di Wisata Pantai Serang”, kurang lebih begitu seingat saya karena tidak sempat menangkap momen dengan kamera.

Oiya, bagi anda yang ingin berwisata ke Pantai Serang, saya tidak menyarankan untuk membawa kendaraan sekelas bus, baik bus besar (biasanya berisi 60 atau 50 penumpang) maupun bus medium (biasanya berisi sekitar 30 penumpang), maksimal kendaraan yang dapat ditampung oleh media jalan adalah Elf dengan isi sekitar 15 orang. Penggunaan mobil keluarga maupun kendaraan roda dua-lah yang lebih dianjurkan, namun tentu dengan kondisi kendaraan dan driver yang prima.

Sesampainya di gerbang masuk wisata Pantai Serang, pengunjung akan dikenai tiket sebesar Rp. 7000-, per orang, setelah itu kami melanjutkan perjalanan sekitar lima menit untuk sampai di tempat parkir wisata, kembali pengunjung akan dikenakan tarif parkir, untuk hal ini saya lupa melakukan kros cek besaran tarifnya. Siap-siap saja Rp. 5000-, sampai Rp. 10000-, untuk kendaraan roda empat.

Masuk ke tempat parkir kami dipersilahkan untuk turun terlebih dahulu, kami menurunkan barang-barang dari bagasi setelah itu bergegas menuju pintu masuk. Kami meninggalkan Pak De yang berpamitan akan ke toilet dulu.

Hawa pegunungan sangat terasa di Pantai Serang ini. Kami melewati beberapa pedagang yang menjajakan dagangan khas pantai, ikan asap, dan beberapa rumah makan sederhana. Hawa terasa panas kekika kami mendekati pantai, namun jangan khawatir, karena wisata Pantai Serang dilengkapi dengan perkebunan cemara dan waru yang rindang dan menghadap langsung ke pantai, jadi sangat cocok untuk menggelar tikar untuk tempat istirahat.

Peraturan yang harus ditepati oleh pengunjung di pantai serang ini salah satunya adalah pengunjung dilarang mandi di laut karena ombak Pantai Serang tergolong cukup besar, karena termasuk kategori pantai laut selatan, satu jalur dengan Malang dan Tulungagung.

Saya tidak sabar untuk segera mendekat ke pantai, saya menitipkan tas ke Ibu saya dan langsung ngeluyur mendekat ke pantai untuk merasakan dinginnya air laut hasil giringan ombak besar. Saya berjalan hingga menuju ke tempat paling timur pantai, disana saya menemukan aliran sungai kecil menuju langsung ke laut.

Potret sana, potret sini, menangkap segala sisi pemandangan dengan kamera ponsel yang sedari tadi berada di saku celana. Setelah merasa puas, saya bermaksud kembali ke tempat kami istirahat semula untuk mengajak adik dan keponakan, namun di tengah jalan saya bertemu dengan mereka yang sengaja bermaksud menyusul saya. Keinginan kembali akhirnya saya urungkan dan mengajak mereka ke tempat yang baru saja saya datangi untuk berfoto bergantian.

Puas di sisi paling timur pantai, mereka mengajak saya untuk bertolak ke sisi pantai paling barat, namun keinginan tersebut harus saya pungkas karena sisi barat sangat sepi dengan pengunjung, saya bermaksud menghindari kejadian yang tidak diinginkan, akhirnya kami memilih menimati air laut di bagian tengah pantai. Ombak datang membawa air laut yang sejuk dan air akan kembali lagi ke tempat asalnya di laut, begitu seterusnya.

Setelah puas bermain air saya kembali ke tempat istirahat yang sebelumnya sudah ditentukan. Saya merebahkan badan, lelah memang, tapi sangat seru. Apalagi hembusan angin dan ombak dapat menghilangkan stres ringan.

Istirahat merupakan jawaban dari rasa capek karena berjalan, sembari menikmati cemilan keripik singkong yang kami bawa dari rumah. Sesaat kemudian Pak De dan Bude beranjak dari tempat duduknya untuk mencari tempat makan siang kami. Di tempat kini tinggal saya, Ibu, Ayah, Adik dan keponakan saya.

Tidak lama kemudian Pak De dan Bude datang menghampiri kami dan meminta bergegas untuk ke tempat makan siang yang sudah dipesan. Kami membereskan tempat, menggulung tikar dan mengembalikannya ke pemiliknya. Yap, Pak De yang menyewakan untuk kita.

Jarak antara tempat makan dan tempat kami bersantai di pantai sangat dekat, setelah sampai di tempat, kami memilih tempat untuk makan bersama.

Pak De memesankan kami menu ikan bakar lengkap dengan nasi, sambal yang bikin lidah saya bergoyang saking pedasnya dan lalapan, entah ini ikan apa, yang pasti ukurannya sangat besar dengan tekstur daging yang lembut, tidak terlalu banyak duri, tentunya rasanya sangat enak. Bahkan sampai tidak habis untuk lauk makan kami bertuju. Kami sudah merasa kenyang hingga akhirnya sisa ikan yang masih setengah itu kami bungkus untuk makan malam.

Menikmati keindahan pantai dan air lautnya sudah, makan siang sudah, apalagi kalau bukan kembali ke rumah Bude. Kami beranjak meninggalkan Pantai Serang, menuju mobil dan kembali ke rumah.

Ditengah perjalanan pulang, terdapat momen yang sangat menegangkan, kejadiannya di tanjakan keluar area wisata, tampak truk dengan muatan tebu berjalan pelan dari arah yang sama dengan kami, hanya saja truk tersebut berada di jalur kanan, berjalan sangat pelan, tentu kami merasa was-was. Sampai-sampai pengendara dari jalur kanan harus mundur beberapa meter untuk memberikan jalan truk berisi penuh dengan tebu. Truk tersebut berhenti di jalur kanan agak mepet ke tanah untuk memberikan jalan kendaraan didepannya, setelah memberikan jalan untuk kendaraan dari arah berlawanan, kita mengira pengemudi truk juga akan memberikan kami jalan, ternyata tidak, pengemudi langsung menjalankan truknya dan tetap berada di jalur kanan. Beberapa kali Pak De mencari kesempatan, namun gagal untuk mendahuluinya. Saat memasuki wilayah dengan badan jalan yang cukup lebar, Pak De memberi aba-aba kepada pengemudi truk dengan membunyikan klakson, kemudian pengemudi truk melambatkan truknya dan dengan gesit Pak De mendahuluinya. Fuuhh… Lega rasanya.

Sekarang jalan tanpa hambatan membentang panjang dihadapn kami, namun masih harus memakan waktu sekitar satu jam untuk sampai di rumah Bude, saya sudah tidak kuat menahan ngantuk yang mulai menyerang, meskipun dengan sekuat tenaga saya menahannya tapi apalah daya. Saya tertidur beberapa saat dan beberapa saat juga terbangun. Hingga sampai di persimpangan SMAN 1 Negeri Blitar, sudah dekat dengan rumah Bude.

Mobil diarahkan melewati jalan sebelah barat alun-alun hingga akhirmya masuk ke Jl. Merapi, Pak De membelokkan mobilnya menuju garasi, kami turun dan mengeluarkan barang dari dalam mobil. Saya langsung menuju kamar, melepaskan jaket dan merebahkan badan di lantai yang sejuk. Alhamdulillah, meskipun capek, tapi saya sangat menikmatinya.

Hari beranjak semakin gelap, saya kemudian membersihkan diri dan bergegas ke ruang tamu, disana sudah berkumpul ayah, ibu, bude dan pak de, berbicara ngalor-ngidul, ayah membicarakan masalah bisnis dengan pak de, ibu dan bude mengulas kembali perjalanan yang sudah kita lalui dua hari ini, sedangkan saya menjadi pendengar setia mereka.

Malam itu bertepatan dengan malam minggu, alun-alun kota tentu semakin ramai pengunjung maupun penjual. Sebelumnya juga sudah disepakati untuk jalan-jalan ke alun-alun, tapi rasa capek yang tak kunjung mereda menahan kami untuk tetap menikmati malam minggu di rumah.

Waktu makan malam telah tiba, kami bergegas menyantap makan malam dengan menu ikan bakar yang kami bawa dari kunjungan kami di Pantai Serang. Selepas makan malam kami beristirahat di kamar, menikmati detik-detik pelepasan rasa capek yang tersisa. Disamping itu, esok pagi saya ingin sekedar berjalan-jalan kembali ke alun-alun dan Taman Pecut untuk sekedar hunting foto.

Hari Ke-3, Alun-Alun Kota Blitar dan Kembalinya KA Penataran ke Sidoarjo

Hawa dingin kembali membangunkan saya dengan sedikit rasa capek yang masih membekas di betis. Saya segera ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan membasuh muka dengan air dingin, setelah selesai saya mengambil handphone dan bergegas ke alun-alun kota.

Saya di temani ayah, setelah berpamitan dengan Ibu, kami berangkat. Berjalan santai sembari melahap udara yang segar. Tidak sampai sepuluh menit kita sudah sampai di alun-alun kota.

Pagi itu, Minggu, 08/07/2018, suasana alun-alun tampak ramai, tua sampai muda berkumpul untuk melakukan senam pagi bersama, ada yang lari pagi. Saya memilih berjalan-jalan santai dan sesekali mengabikan momen yang ada.

Alun-alun Kota Blitar merupakan tempat multi-fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Alun-alun Kota Blitar diapit oleh beberapa tampat penting yang mengelilinginya, sebelah barat alun-alun berdiri Masjid Agung Kota Blitar, Taman Pecut dan Kantor Walikota Blitar berada di sebelah selatan, Pendopo Agung Ronggo Hadinegoro Kabupaten Blitar di sebelah Utama, serta Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kabupaten Blitar berada timur. Ditengah-tengah alun-alun juga didirikan tempat khusus yang tengahnya ditanami pohon. Cerita singkat dari Pak De, dahulu disitu merupakan tempat dieksekusinya narapidana dari Lapas Kelas II B kemudian memandikan dan mensolati jenazahnya di Masjid Agung Kota Blitar.

Seperti hari sebelumnya, saya melewati jalur tengah alun-alun kota dengan tujuan ke Taman Pecut, namun sayang, mungkin saya terlalu pagi, kondisi Taman Pecut masih ditutup, akhirnya saya memilih untuk berjalan-jalan disekitar alun-alun menuju depan masjid.

Setelah merasa cukup melemaskan otot-otot yang kaku, kami kembali ke rumah Bude untuk bersiap-siap kembali pulang ke Sidoarjo. Sejauh apapun saya pergi, Sidoarjo akan tetap menjadi tempat saya kembali.

Proses persiapan meliputi membersihkan badan, menyedu coklat yang saya beli dari Kampung Coklat, sarapan pagi, menata ulang barang bawaan yang sebelumnya kami bawah dari rumah, persiapan optional ini-itu sudah beres, tinggal menunggu waktu untuk berangkat ke stasiun Blitar.

Jam 9:30 WIB kami memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Kami diantar Bude dan Pak De ke stasiun. Cukup memakan waktu sekitar lima menit perjalanan jika menggunakan mobil. Sesampainya di stasiun, Pak De dan Bude mengantar kami sampai di antrian pengunjung, kami berpamitan dengan mereka, setelah itu kami menyodorkan tiket dan kartu identitas kepada petugas stasiun dan masuk ke tempat antrian penumpang. Tepat jam 10:00 WIB, KA Penataran telah merapat dengan sempurna di jalur tiga Stasiun Blitar.

Kami masuk ke gerbong tiga dan mencari tempat duduk yang sesuai dengan tiket yang kami bawa. Saya merapikan barang bawaan di bagasi atas, dan duduk menunggu dan menikmati perjalanan KA Penataran yang membawa kami kembali ke stasiun Gedangan, Sidoarjo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.