Menyambung Tali Silaturahmi ke Desa Galengdowo

Desa Galengdowo, Kec. Wonosalam, Kab. Jombang merupakan sebuah wilayah pedesaan yang berada di lereng Gunung Anjasmoro sekaligus tempat nostalgia-nya kawan-kawan KKN kelompok 1 UPN “Veteran” Jawa Timur tahun 2017. Desa yang asri, ramah, memiliki pemandangan elok rupawan dan didukung dengan udara yang khas dapat membuat saya enggan meninggalkannya.

Kunjungan kali ini dalam rangka “membayar hutang bulan Syawwal” karena kami tidak sempat berkunjung dan bermaaf-maaf-an dengan Ibu pemilik rumah tempat kawan-kawan putri nge-kos selama kegiatan KKN berlangsung.

Berbagai persiapan telah kami lakukan sejak H-7 keberangkatan, mulai dari berkabar ke kawan-kawan, menentukan waktu yang tepat untuk berangkat, hingga proses pemberangkatannya.

Kami bertiga, saya, Om Bagus dan Lek Firman, melakukan rapat kecil-kecilan di kantin kampus untuk menentukan waktu pemberangkatan dan membagi tugas.

Waktu pemberangkatan telah ditentukan, yaitu Sabtu, 4 Agustus 2018, jam yang kami sepakati bertiga adalah pukul 08:00 WIB dengan estimasi keterlambatan 30 menit dari waktu yang telah ditentukan. Rencana A dan B sudah kami buat, tapi itu juga belum final, kita juga harus menyesuaikan waktu dari kawan-kawan yang lain.

Rencana A adalah kita berangkat dengan menyewa sebuah mobil keluarga, agar rencana A ini dapat dijalankan minimal harus ada delapan orang yang berkomitmen ikut, karena kita akan patungan untuk membayar sewa-nya. Miniman dua orang driver untuk bergantian.

Rencana B adalah opsi terahir yang akan kita lakukan saat kawan-kawan yang berkomitmen ikut hanya kurang dari enam orang. Berangkat dari tempat masing-masing sesuai dengan waktu yang disepakati. Rencana pemberangkatan adalah dengan motor-an dengan titik kumpul SPBU Tjiwi.

H-1 kabar yang saya terima dari Om Bagus ternyata mengharuskan kami menjalankan Rencana B, yaitu hanya lima orang, termasuk saya, Om Bagus dan Lek Firman, Andini dan Neng Warti, yang berkomitmen ikut. Sore harinya saya berkabar dengan Bu Riani (pemilik rumah) bahwa kami akan berkunjung.

Hari yang ditentukan telah tiba, pemberangkatan harus dibagi menjadi tiga tempat sesuai dengan domisili dan opsi berboncengan. Saya dan Andini dari Sidoarjo, Om Bagus dan Neng Warti dari Medokan dan Lek Firman dari Pandugo.

Saya menjemput Andini pukul delapan lebih, karena hari itu suhu udara sangat dingin, meskipun saya sudah bangun sejak pagi tapi air kamar mandi seolah baru saja keluar dari kulkas. Dingin minta ampun. Untuk menyiasatinya, saya mendahulukan dengan sarapan sembari menunggu rebusan air buat mandi. Noob sekali.

Kami berdua berangkat ke titik kumpul yang telah ditentukan, akan tetapi kawan-kawan dari Surabaya tampaknya masih belum berangkat. Saya memikirkan berbagai jalur untuk mengulur waktu. Lewat Mojosari mungkin bisa saya pilih, tapi tujuan berakhir melewati Terminal Mojokerto, jauh dari titik kumpul. Lewat kawasan Tarik, saya kebetulan belum pernah lewat sana. Untuk menyiasatinya saya memacu bebek besi dengan kecepatan 40 KM/jam, itupun saya masih menggigil saking dinginnya udara pagi. Sidoarjo rasa Ngalam.

Berkendara santai, ngobrol ngalor-ngidul dan didukung dengan jalanan yang sepi, jarak antara Krian ke Tjiwi seolah tidak terasa. Dibeberapa jalur utama yang memiliki dadan jalan yang cukup lebar, momen bus mendahului kendaraan besar di depannya beberapa kali saya jumpai. Bikin merinding juga.

SPBU Tjiwi telah terlihat beberapa meter didepan sebelah kiri jalan. Ini adalah SPBU yang selalu ramai pengunjung pada saat hari besar dan hari libur. Cocok digunakan sebagai titik kumpul.

SPBU Tjiwi

Saya memarkirkan bebek besi dibawah rimbunnya pepohonan. Tampak beberapa truk muat tebu terparkir rapi, bahkan ada satu rombongan keluarga tampak seperti sedang camping disitu.

Saya bertanya ke Andini apakah kawan-kawan dari Surabaya sudah berangkat atau belum, dia-lah yang memonitoring kawan-kawan melalui layanan perpesanan. Sepertinya pesan yang dikirimkan Andini ke Om Bagus tidak dibalas sejak lima belas menit yang lalu. Saya mengambil kesimpulan dia sudah berangkat.

Suasana pagi itu cukup tenang, saya mengambil beberapa spot untuk mengambil gambar. Tentu ini saya lakukan jauh dari tempat pengisian bahan bakar. Ditengah-tengah keasyikan saya ini-lah kami ditegur oleh seorang bapak dengan kisaran umur 60-an. Beliau menanyakan nama sebuah daerah di Kec. Mojokerto dengan Bahasa Jawa kepada kami.

Beliau berasal dari Ngawi dan sudah berkunjung ke beberapa daerah di Surabaya untuk mencari pekerjaan. Namun sayang sekali, tidak satupun pekerjaan yang sudah didapatkannya. Hingga akhirnya beliau putus asa dan ingin berkunjung ke rumah saudaranya yang berada di wilayah Gedek Kec. Mojokerto. Itupun dilakukannya dengan bekal pengetahuan jalan yang minim alias nekat.

Tentu nama wilayah tersebut masih asing ditelinga saya, saya memang bukan orang Mojokerto. Berbekal paket data 100 MB, saya mencoba mencari lokasi Balai Desa Gedek pada aplikasi peta digital, titik yang paling mudah saya simpulkan ketika akan berkunjung ke suatu daerah.

Setelah wilayahnya saya temukan di aplikasi peta digital, saya menunjukkan ke beliau dengan merinci beberapa belokan hingga sampai ke titik tujuan yang saya maksud. Mungkin beliau masih awam mengenai aplikasi sekelas peta digital, tapi saya berusaha untuk memberikan penjelasan setahu saya. Alhamdulillah, beliau dapat memahaminya. Beliau mengucapkan rasa terima kasih atas petunjuk jalan yang sudah kami beritahukan.

Kami kembali ke tempat bebek besi yang saya parkirkan dan melanjutkan kegiatan ngobrol ngalor-ngidul. Sesekali saya mencoba mengambil gambar di beberapa spot, hanya saja hasilnya kurang epik.

Langit pagi

Tidak lama kemudian, Om Bagus dan Neng Warti sampai juga di tempat itu. Namun saya bingung, kemana Lek Firman, saya kira ketinggalan jauh dibelakang. Ternyata mereka tidak berangkat sama-sama. Kegiatan ngobrol ngalor-ngidul kami lanjutkan, tentu kali ini lebih seru.

Selang beberapa menit kemudian Lek Firman yang ditunggu-tunggu telah sampai di titik kumpul ini. Kami segera bersiap untuk berangkat, Om Bagus mengusulkan untuk lewat jalur Kota Mojokerto, kami setuju. Setelah menghidupkan mesin bebek besi saya lekas menyusul dibelakang mereka.

Namun sial, saya tidak sempat menyusul mereka, saya ketinggalan setelah mereka berhasil mendahului truk gandeng yang berjalan lamban. Ketika saya mencoba mendahuluinya ternyata truk tersebut sudah menyalakan lampu sein sebelah kanan.

Saya dapat mendahului truk tersebut dari arah kiri dan sedikit memacu laju bebek besi, namun sayang, mereka berdua sudah tidak nampak didepan. Dengan berbekan insting dan informasi petunjuk jalan, saya mengarah ke Alun-Alun Kota Mojokerto.

Alun-alun kota sudah saya putari sekali, hanya mereka belum kelihatan, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, melewati pusat pertokoan Mojokerjo, area yang sangat padat, baik kendaraan maupun bangunannya.

Sampai di tengah-tengah wilayah dapat itulah Om Bagus menelfon Andini, menginstruksikan untuk kembali ke alun-alun kota. Saya harus putar balik melewati jalur yang sama sekali tidak saya ketahui. Untunglah penunjuk jalan sudah siap di perempatan maupun di persimpangan jalan.

Alun-alun kota sudah didepan mata saya hendak menghidupkan lampu sien tampak dari kejauhan Om Bagus dan Lek Firman sudah memasuki jalur utama, segera saja saya susul dan kami dapat berkendara bersama sampai di Galengdowo.

Memasuki kawasan Kec. Bareng jalanan mulai menanjak, tapi bebek besi saya masih bisa mengatasinya. Memasuki kawasan Kec. Wonosalam inilah, bebek besi saya mulai berteriak. Hampir mogok di tanjakan yang memiliki sudut kemiringan sekitar 45°. Untung saja gigi satu masih dapat mengatasinya.

Tanjakan berahir di persimpangan Y yang menghubungkan Galengdowo ke Kandangan. Rumah Bu Riani masih harus ditempuh sekitar 500 meter dengan tanjakan sedang.

Gapura desa Galengdowo sudah dapat kami lihat setelah melewati sekali lagi pertigaan. Inilah Desa Galengdowo yang asri dan penuh toleransi, Desa tempat kami bernostalgia akan semua kegiatan saat KKN berlangsung.

Saat kami sampai rumah Bu Riani beliau sudah ada di teras rumah, bersama keponakannya. Kami memarkirkan motor-motor kami, dan langsung bersalaman dengan beliau. Kami kembali menikmati suasana senikmat-nikmatnya.

Bukan Bu Riani namanya kalau tidak langsung merepotkan diri untuk kami. Beliau langsung mengluarkan beberapa suguhan. Sarang tawon, kripik pisang, rengginang, dan tidak ketinggalan rokok “syar’i” alias astor.

Rokok “syar’i”, begitu celetuk Andini saat melihat saya memakannya dengan ala-ala orang yang sedang merokok. Sebutan syar’i diberikan karena tidak berasap. Ada-ada saja.

Terdengar dari ruang tamu, Bu Riani tampak sibuk didapur, entah, biasanya saya langsung ke dapur untuk membantunya, tapi kali ini saya benar-benar capek perjalanan.

Tidak seberapa lama kemudian, Neng Warti menyuruh kami untuk segera makan. Inilah yang kami tunggu-tunggu, masakan khas desa. Sambal mentahan kemangi, ikan tombro goreng, telor ikan dan lalapan. Lebih nikmat dari restoran manapun. Kami melahapnya langsung dengan tangan karena kurang afdol kalau menggunakan sendok.

Selepas menikmati sajian yang selalu bikin kangen tersebut, kami bergabung di teras rumah dengan Bu Riani, brbincang-bincang, berfoto untuk mengabadikan momen. Saya juga tidak ingin ketinggalan. Berbekal kamera ponsel saya mengabadikan beberapa spot bunga dan pekarangan yang penuh dengan tanaman cabai dan terong.

Bunga di depan rumah Bu Riani
Cekrek narsis, Om Bagus dimana?

Tidak seberapa lama Om Bagus, Andini dan Lek Firman mencari spot foto di Balai Desa, mungkin juga mereka merangkul kembali nuansa-nuansa nostalgia. Saya kebetulan mager (malas gerak) untuk ikut mereka, Neng Warti juga leyeh-leyeh di ruang tamu.

Pada saat itu Bu Riani dan anak tertuanya Mas Rud, sedang membuat pernak-pernik rumah untuk menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka tampak membuat hiasan lampu kelap-kelip yang akan dipasang di teras rumah.

Bahan hiasan terdiri dari lampu kelap-kelip, sesetan bambu, tali rafia dan solasi kertas. Saya lebih tertarik membantu mereka. Mula-mula Mas Rud membuat lingkaran dari sesetan bambu dan Bu Riani mengikatnya dengan tali rafia.

Sesetan bambu sepanjang 15 meter tersebut dapat membentuk lingkarang sambung sebanyak lima belas bentuk. Setelah jadi, Mas Rud mengambil lampu kelap-kelip dan menatanya pada sesetan bambu yang sudah dibuat lingkaran sambung.

Saya mendapatkan bagian yang cukup mudah, memotong solasi sepanjang 3 – 5 cm untuk perekat lampu.

Hari sudah semakin sore. Suara adzan sudah mulai berkumandang melalui pengeras suara yang ada di beberapa surau. Hanya tinggal dua lengkungan maka proses pembuatan hiasan lampu kelap-kelip ini selesai. Om Bagus, Andini dan Lek Firman pun kembali kerumah.

Proses pembuatan hiasan hari kemerdekaan yang dilakukan Bu Riani dan Mas Rud sudah selesai. Tiba-tiba teman-teman mengajak saya kembali. Ah, berat rasanya kembali, saya ingin lebih lama disini. Mau bagaimana, memang banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan.

Kami berkemas dan bersiap kembali ke rutinitas semula. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kami perpamitan dengan Bu Riani dan Mas Rud. Kami menginggalkan Desa Galengdowo. Desa yang memiliki 1000 alasan untuk kami kembali lagi suatu saat nanti.

2 thoughts on “Menyambung Tali Silaturahmi ke Desa Galengdowo”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.