Warung Nasi Bambu ABSAL, Kuniner Unik di Yogyakarta

Perbedaan cuaca sangat terasa ketika kedua kaki ini menginjak tanah istimewa Jogja, entah hanya perasaan saya saja atau memang seperti itu adanya, sangat berbeda dengan daerah tempat saya tinggal, apa mungkin karena efek dari Gunung Merapi yang saat itu masuk pada level waspada? Entahlah, munkin saja.

Tulisan ini merupakan artikel ke-2 dari serangkaian tulisan yang menggambarkan pesona Jogja setelah artikel perjalanan saya menggunakan KA Ranggajati 101 menuju Stasiun Jogjakarta yang lebih dulu sudah saya posting.

Cuaca mendung yang diperkuat dengan sisa-sisa tetasan air langit di tanah Stasiun Jogja menandakan telah turun hujan beberapa waktu sebelum saya sampai disana.

Kami berjalan pelan meninggalkan stasiun sembari menikmati lelah. Sesampainya dipertigaan, kami menghentikan taksi untuk mengantarkan kami ke penginapan yang sebelumnya sudah dipesan oleh Darian.

Hiasan dinding di salah satu sudut lobby Student Park Hotel Apartment

Taksi meluncur dengan santai menuju Student Park Hotel Apartment yang berada di Jl. Seturan Raya, Kab. Seleman, hanya butuh sekitar kurang lebih 16 menit, estimasi waktu dari aplikasi peta digital.

Sesampainya di penginapan, kami melakukan cek masuk, resepsionis melayani kami dengan ramah, dia memberikan kunci kamar, kartu akses lift dan keperluan untuk akses internet. Kami segera menuju lift yang ada, menyodorkan kartu akses lift ke perangkat sembari menekan tombol lantai yang dituju. Memang agak kurang strategis untuk masalah pemandangan, namun sangat strategis untuk melepas penat yang sudah berayun-ayun sejak pertama melangkahkan kaki keluar dari stasiun.

Cak Darian sedang bersantai menunggu jemputan taksi

Kami rebahan beberapa saat sembari ngobrol mengenai agenda yang akan kita lakukan sore itu dan esok hari saat acara Pesta Rilis BlankOn XI Uluwatu. Sore itu kami sudah janjian untuk ketemu dengan Rama (aka Rania Amina) di suatu warung atau rumah makan dekat dengan UGM (Universitas Gajah Mada) jam 17.20 menjelas buka puasa. Kami bergantian membersihkan badan, lalu berangkat tepat jam 16.30.

(Dari kiri) Cak Darian, Rama (Rania Amina) dan saya di Warung Nasi Bambu ABSAL

Sedikit biografi mengenai Rama, dia mempunyai nama lengkap Ahmad Romadhon Hidayatullah dengan nama pena Rania Amina, merupakan seorang kontributor diberbagai proyek perangkat lunak bebas di dalam maupun di luar negeri, saat ini dia mengepalai sebuah proyek perangkat lunak bebas yang fokus pada kuliner tradisional Indonesia, GNOME Recipes, dia juga akan menjadi salah satu pengisi acara di Pesta Rilis BlankOn XI Uluwatu di AMIKOM.

Tujuan kami sore itu adalah Warung Nasi Bambu ABSAL dengan agenda buka puasa bersama, inilah pertama kalinya saya makan di warung dengan menu yang unik, Nasi Bambu atau nasi dalam bambu dengan aneka pilihan lauk pauk.

Suasana di Warung Nasi Bambu ABSAL (daftar menu)

Kami bertiga memesan menu yang sama untuk buka puasa, yaitu nasi bambu dengan lauk ayam pecak ditambah brambang asem dan kol goreng, masing-masing satu porsi, tidak lupa untuk urusan minum, kami pesan es paling enak sedunia, es teh.

Menjelang waktu buka puasa, menu-menu yang sudah kami pesan telah tersedia di meja no. 7 yang kami tempati, yah, inilah nasi bambu ayam pecak dengan brambang asem dan kol goreng beserta es tehnya.

Pesanan kami sudah datang, eitss, belum waktunya buka puasa loh

Seperti namanya, penyajian nasi bambu menggunakan potongan bambu dengan ukuran tertentu sebagai tempat atau wadah nasi dengan kondisi nasi yang masih mengepul panas, pramusaji juga menyediakan “sodokan” yang terbuat dari kayu yang dilapisi dengan plastik untuk mengeluarkan nasi dari tempatnya, potongan bambu.

Lauk ayam pecak terdiri dari ayam goreng dan sambal khusus, pecak, berwarna coklat kehitaman, dengan rasa asem-manis-pedas, mungkin bisa dibilang mirip dengan sambal kecap tapi tidak sama. Nasi bambu dan ayam pecak disajikan di piring anyaman dengan alas daun pisang dan tiga potong mentimun sebagai penlengkapnya.

Nasi bambu ayam pecak

Dua menu tambahan terdiri dari kol goreng dan sambal brambang asem, untuk kol goreng tidak ada yang unik, hanya kol atau kubis yang digoreng, namun dari segi rasa, saya jamin, rasanya sangat gurih, gurih-gurih khas kubis, sedangkan untuk brambang asem, ini juga sambel dengan cita rasa rasa khas yang juga baru saya jumpai, pedas-manis-asem, secara penyajian, sambal brambang asem disajikan dengan kulupan kangkung atau saruran kangkung kukus. Lengkap sudah kenikmatan berbuka puasa hari ini.

Hampir saja lupa, Warung Nasi Bambu ABSAL juga menyediakan takjil berupa agar-agar (mungkin berbeda untuk hari-hari sebelum dan sesudah saya singgah) dan air mineral. Air mineral disajikan di galon, bagi anda yang memesan es dan ternyata habis duluan, anda dapat mengisi kembali dengan air mineral tersebut. Semua itu disajikan secara cuma-cuma alias gratis.

Waktu berbuka puasa sudah melambaikan tangannya, kami-pun menyantap kudapan yang sedari tadi sudah melambai-lambai ingin segera disantap.

Beda waktu penyajian beda pula dengan waktu santap buka-nya, alhamdulillah, kami bersyukur atas nikmatnya buka puasa dengan menu unik nan menggugah selera.

Setelah kami merasa cukup, kami lekas membayar, dan menuju masjid yang terletak tak jauh dari Warung Nasi Bambu ABSAL untuk melaksanakan sholat maghrib berjama’ah.

Selepas beribadah kami berpamitan dengan Rama (aka Rania Amina) untuk melanjutkan perjalanan menuju keramaian Jl. Malioboro untuk memanfaatkan waktu yang ada. Mumpung ke Jogja juga kan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.