Satu lagi operator seluler meramaikan pasar Digital Telco di Indonesia. Operator tersebut bernama Tri. Dengan masuknya Tri ke pasar digital telco, pasar digital telco di Indonesia jadi semakin ramai dan banyak pilihan.

Sebagai salah satu pengguna Tri yang aktif sejak tahun 2012, saya tentu menyambutnya dengan antusias.

Aplikasi Bima+ baru Tri Digital Telco
Tampilan aplikasi baru Bima+

Saking antusiasnya, saya hampir mengetuk tombol beli perdana. Tapi saya buru-buru sadar, kalau nomor utama yang saya gunakan adalah nomor Tri juga. Mau dihanguskan juga sayang. Apa lagi nomor itu sudah saya gunakan selama 10 tahun. Masa aktifnya juga masih panjang. Sampai 2035. Masih 14 tahun, dong.

Buat apa juga kan punya banyak-banyak nomor. Toh, ponsel yang saya pakai cuman mendukung dua kartu SIM saja. Lagian, meskipun dengan nomor lama, nyatanya saya masih bisa merasakan manfaat dari fitur Tri digital telco juga.

Cara menggunakan Tri digital telco

Tidak seperti kebanyakan operator digital telco yang lain yang mewajibkan penggunanya untuk memasang aplikasi baru. Buat Anda pengguna Tri dan sudah memasang aplikasi Bima+ di ponsel, untuk merasakan manfaat dari digital telco-nya Tri, Anda cukup memperbarui aplikasi Bima+ dari toko aplikasi bawaan ponsel.

Jadi, untuk pengguna ponsel tanpa slot MicroSD seperti saya, bisa merasa sedikit lega.

Fitur yang saya suka sejak Tri menjadi digital telco

Ada setidaknya tiga kategori fitur yang saya suka dari aplikasi Bima+ yang baru, yaitu:

1. Tampilan antar muka pengguna

Jika dibandingkan dengan aplikasi Bima+ yang lama, aplikasi Bima+ terkini memiliki tampilan yang cukup segar dan lebih rapi. Pengalaman penggunanya juga lebih baik, meskipun aplikasinya dibuat ala-ala aplikasi toko daring.

Hanya satu bagian dari aplikasi Bima+ yang ingin saya kasih catatan, yaitu bagian Bima Market. Ya saya sendiri kurang faham kenapa fitur ini harus ada di Bima +. Apalagi, dalamnya itu isinya seperti tautan afiliasi. Ketika diketuk, larinya ke toko daring lain.

Kalau memang digunakan sebagai afiliasi, ya saya paham sih. Selama jadi cuan, kenapa enggak. Ya asalkan Bima+ gak nampilin iklan yang cukup mengganggu, masih oke, lah.

2. Metode pembayaran beragam

Ini fitur yang man to the tap. Mantap!. Sudah seharusnya digital telco memiliki metode pembayaran yang seragam.

Bima+ sekarang sudah menerima pembayaran dengaan metode berikut:

  1. Dompet Elektronik (Ovo, Gopay, Dana, dan ShopeePay).
  2. Kartu Debit atau Kredit (Visa/Master/JCB).
  3. Transfer virtual account (BCA, Mandiri, BRI dan Pertama).
  4. Transfer bank (CIMB Clicks dan Danamon)

3. Akses gak lemot

Menjadi digital telco, tidak cukup dengan asal bisa dijangkau dari ponsel pintar saja. Menjadi digital telco juga harus memperhitungkan pengalaman pengguna selama menggunakan perkakas pendukungnya.

Dalam hal ini, Bima+ tampaknya sudah menerapkan lazy load pada beranda aplikasinya (CMIIW, ya). Jadi, konten akan dimuat ketika Anda menggulir halaman. Jadi, respon aplikasi bisa lebih cepat.

Kesimpulan

Langkah Tri memasuki pasar digital telco di Indonesia menurut saya, as a user, cukup baik. Memang sudah begitu seharusnya. Apalagi transisi teknologi selular juga sudah terlihat siap mengarah ke 5G.

Siang ini, saya membaca berita bahwa Tri telah resmi merger dengan Indosat. Entah seperti apa dampak dari sisi bisnisnya, saya, sebagai pengguna dan pelanggan tentu mengharapkan yang terbaik aja.

Demikian ulasan seputar operator selular Tri. Semoga langkah Tri merger dengan Indosat adalah langkah yang tepat sehingga para pengguna atau pelanggan bisa merasakan dampak positifnya. Minimal, dukungan layanannya bisa lebih luas lagi.