Lemahnya Perlindungan Pendidikan Anak di Kabupaten Cilacap

perlindungan anakPerlindungan anak merupakan sebuah keharusan yang menjadi tanggung jawab kita semua. Negara, pemerintah, masyarakat keluarga serta orangtua berkewajiban untuk memberikan perlindungan dan menjamin terpenuhinya hak-hak asasi anak. Segala persoalan anak harus tetap kita lindungi sesuai dengan perspektif anak. Pemerintah memiliki kewajiban untuk dalam mengawal terlaksananya hak-hak anak sesuai dengan peraturan yang laku.

Undang-undang (UU) nomor 35 tahun 2014 yakni perubahan atas undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak disebutkan bahwa tujuan dari perlindungan anak yakni untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.

Namun dalam realitasnya semua persolan anak belum sepenuhnya mendapat perlindungan sesuai yang diamanatkan dalam peraturan tersebut. Misal dalam persoalan pendidikan, anak korban kekerasan (fisik,spikis, kejahatan seksual dan kejahatan lainnya) sampai hari ini masih sangat mimim perlindungannya.

Contoh kasus dikabupaten Cilacap pada bulan Februari 2015 kemarin, ada siswi Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri di salah satu kecamatan di kabupaten Cilacap menjadi korban kekerasan kejahatan seksual, ketika korban menginginkan untuk tetap bersekolah disekolah tersebut pihak sekolah sudah tidak menerima lagi. Alasannya yakni bahwa siswi tersebut telah melakukan perbuatan yang melanggar aturan di lingkungan sekolah. Pihak sekolah tidak mau tau apakah siswi tersebut hanya korban atau sebaliknya. Pihak sekolah hanya bisa menyarankan untuk mengundurkan diri dan segera pindah. Artinya pihak sekolah tidak mau direpotkan dengan hal-hal seperti itu, apalagi kalau kasus tersebut sudah diketahui publik, sekolah hanya ingin konsentrasi menjaga nama baik sekolahnya saja tidak berpikir dalam kerangka perlindungan anak.

Padahal dalam UU No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU No. 23 Tahun 2002 sudah dijelaskan dalam pasal 9 bahwa; Setiap Anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat. Dalam pasal 48 bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menyelenggarakan pendidikan dasar minimal 9 (sembilan) tahun untuk semua Anak. Dan diperjelas lagi dalam pasal 54 yakni (ayat 1) Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak Kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain. (ayat 2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, aparat pemerintah, dan/atau Masyarakat.

Melihat dari aturan diatas secara gamblang menjelaskan bahwa hak pendidikan anak itu sangat melekat dan tidak bisa dicabut. Terlepas itu korban kekerasan ataupun pelaku. Pemerintah harus menjamin bahkan wajib memberikan perlindungan dari berbagai jenis kekerasan.

Curhat Toyibah Sebagai Pahlawan Devisa

Toyibah (47) menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) selama tiga tahun dan membawa cerita ke tanah air Indonesia. Di awali dengan ditampungnya Toyibah di tempat penampungan TKI di Qatar. Toyibah bersama dengan rekan seperjuangan pahlawan devisa Indonesia diperlakukan tidak selayaknya manusia. Mereka ditempatkan di dalam ruang yang pantas disebut penjara, kegiatan makan, tidur, bahkan hingga buang air kecil di lakukan di dalam ruang tersebut. Toyibah juga menuturkan bahwa ada satu Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Sidareja yang sudah hampir 3 bulan mengalami penyiksaan oleh petugas di penampungan terkhusus oleh petugas wanita. TKW yang sudah masuk ke dalam penampungan tidak dapat dengan mudah untuk pergi keluar masuk. Di awal saja, kami masing-masing diberi kantong kresek berwarna hitam yang digunakan untuk tempat buang air kecil. Kami seperti dipenjara, disiksa. Pagi hingga sore kami di bawa di agen Penyalur Tenaga kerja, di agen banyak orang Indonesia yang bekerja di sana, perlakuan mereka akan baik karena di Penyalur Tenaga kerja itu akan ada calon ‘majikan’ yang mencari kami. Namun, sore kami dibawa kembali ke rumah dan mengalami berbagai macam ‘kejutan’ yang menyiksa.

Apa sebenarnya daya kami TKW? Setelah menemukan majikan ‘aja wani-wani kabur, resiko berat’ itu prinsip Toyibah untuk mempertahankan diri selama di negeri orang. Nasib TKW bermacam-macam jika mendapatkan majikan yang baik ya akan betah, namun jika mendapat majikan yang jahat yang ada dalam pikiran hanya kabur dan kabur. Karakter majikan jahat biasanya ditemukan di Banglades dan Srilanka, sebab TKW yang bekerja di sana ancamannya bisa mati. Bahkan mereka akan dinikahi hanya untuk pemuas nafsu saja, dipenjara dan disiksa semaunya hingga TKW-TKW Indonesia tidak bisa keluar kecuali mereka dipenjara dulu. Keadaan itu berbeda ketika saya di Saudi yang bebas untuk keluar masuk, diibaratkan pintu dan jendela yang tidak pernah tertutup. Orang Indonesia di luar sana terkenal ‘bodho’ berbeda dengan orang Filipina yang pintar dan pemberani.

Toyibah bekerja sudah 3 tahun, kemudian datang orang Filipina namun, orang Filipina tersebut tampaknya menghina orang Indonesia dan Toyibah akhirnya berkelahi dengan salah satu pramuwisma yang berasal dari Filipina tersebut.

Orang Indonesia terkenal dengan ‘santet’ nya. Orang Arab Saudi akan curika dengan kami dan mereka sangat ketakutan jika orang Indonesia melakukan santet itu di luar negeri dan menyebabkan mereka mati. Pernah juga terjadi kasus seperti salah satu anak dari pak Mahsun sebut saja ‘N’ yang sudah 9 bulan tidak digaji selama di Arab Saudi. Toyibah lebih mujur, dia bekerja dengan majikan yang kaya raya pemilik dealer di Jerman, Abudabi, dan Dubay.

“Enak kerja di Qatar sebenarnya” tutur singkat Toyibah. Namun, memang hanya sebagai babu (PRT= Pembantu Rumah Tangga). Toyibah mengasuh anak ketika menjadi TKW, siang dia membawa anak majikannya ke taman dan di sisi lain teman-teman PRT menggeledah lemari Toyibah yang dikira memiliki jimat dan pegangan layaknya orang Indonesia yang dikenal pandai santet. Soalnya salah satu TKW asal Cianjur pernah mencuri barang-barang milik majikannya dan dipaketkan ke Indonesia namun tidak pernah ketahuan. Tapi ya itu menjadikan jelek nama Indonesia karena dikenal ahli pelet, santet, dan ilmu hitam.

Orang Filipina yang kerja bareng dengan Toyibah terkenal berani bahkan jika majikannya yang orang Arab kasar, dia akan membalasanya dengan catatan tidak sampai membunuh. Orang Indonesia yang lemah itu orang Gunung Kidul Yogyakarta dan orang Jawa Barat, mereka diapa-apakan diam.

Kerja di Arab Saudi minimal bisa berbahasa Inggris, ya bahasa Inggris medhoklah tutur Toyibah. Bahkan ketika di Arab orang Indonesia dihina sekali dikira tidak bisa membaca Al-Quran dan bahasa Arab, sampai-sampai disuruh untuk tes menghafal ayat Kursi. Di Arab Saudi wanitanya dikenal bodoh dan pendidikan mereka rendah. Kegiatan wanita Saudi hanyalah ngrumpi, hura-hura, berkumpul di rumah tetangga. Majikan tempat Toyibah bekerja juga sama seperti itu, para wanita dengan kesibukan ngrumpinya meskipun bulan Ramadhan tiba. Ditempat solat Tarawih yang ada hanya laki-laki. Menurut Toyibah, penduduk Saudi tidak mengenal adanya perjanjen, ziaroh kubur, kalo ada yang meninggal dunia ya dibiarkan dikubur di padang pasir dan tidak mengenal slametan. Orang muda di sana kegiatannya berjoged, mabuk, dan foya-foya. Berjoged sampai abayan (pakaian model Timur Tengah) dan krudung mereka berhamburan lepas. Tradisi di Saudi ketika Ramadhan ya hanya traweh untuk laki-laki dan ngrumpi untuk wanitanya. Setelah adzan subuh hingga magrib mereka akan tidur seharian dan bangun ketika berbuka dan tidak tidur hingga subuh.

Di Saudi libur sekolah hari Kamis-Jumat dimanfaatkan untuk berlibur dan pergi ke padang pasir untuk mendirikan tenda-tenda karena di sana sangat panas. Toyibah menyebutkan bahwa orang Saudi berkarakter keras dan kejam. Di sana tidak ada wanita bekerja di kantor. Kalau di Qatar wanitanya sudah maju dan berpendidikan, mereka bekerja di hotel, restoran, jadi TKW yang bekerja di Qatar akan lebih merasa aman sebab di sana wanita banyak yang bekerja bersama dengan kaum laki-laki. Qatar akan berbeda dengan Mekah, di Mekah ada hukuman penjara jika wanita tidak menggunakan abayan. Pengalaman Toyibah memang sudah banyak, dan Toyibah salah satu pahlawan devisa yang ‘selamat’. Namun, masih banyak Toyibah-Toyibah yang lain yang mungkin mengalami nasib buruk mulai dari tidak di gaji, disiksa, dipenjara, bahkan hingga dibunuh. Sekuat-kuatnya TKW Indonesia tetaplah butuh perlindungan dan perhatian dari pemerintah.

Oleh : Lia Restiawati Hanggara

Buruh Migran Versi Keseimbangan Sosial

Teori ini sering disebut sebagai teori keadilan dengan memfokuskan pada perbandingan relative antara input dan hasil dari individu lainnya. Teori ini dipelopori oleh Zalemik (1958 dan dikembangkan oleh Adams (1963). Secara garis besar teori ini mengandung dua hal pokok. Bagian yang diterima seseorang harus sebanding dengan sumbangan yang diberikan, baik dalam bentuk tenaga, pikiran, uang, maupun yang lain. Disamping itu, kesebandingan bagian yang diterima seseorang juga harus dilihat dengan yang diterima orang lain.

Perasaan equity dan in-equity atas suatu situasi, diperoleh dengan cara membandingkan dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor maupun ditempat lain. Keadilan merupakan keadaan yang muncul dalam pikiran seseorang jika ia merasa bahwa antara ratio usaha dan imbalah adalah seimbang. Prinsip dari teori ini yakni “distributive justice” yaitu aturan yang mengatakan bahwa sebuah imbalan harus sebanding dengan investasi. Proposisi yang terkenal sehubungan dengan prinsip tersebut berbunyi ” seseorang dalam hubungan pertukaran dengan orang lain akan mengharapkan imbalan yang diterima oleh setiap pihak sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkannya. Semakin tinggi pengorbanan, maka semakin tinggi imbalannya dan keuntungan yang diterima oleh setiap pihak harus sebanding dengan investasinya. Semakin tinggi investasi, maka semakin tinggi keuntungan”. Dalam hal ini perilaku sosial seseorang hanya bisa dijelaskan oleh sesuatu yang bisa diamati, bukan oleh proses mentalistik (black-box). Semua teori yang dipengaruhi oleh perspektif ini menekankan hubungan langsung antara perilaku yang teramati dengan lingkungan.

Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi buruh migran saya sudah cukup besar nilainya apalagi kalau dilihat dari hasil yang didapat oleh para TKI kita tidak seberapa besar. Kalau dihitung antara mengorbanan dan penghasilan yang didapat tentunya masih terjadi ketidak adilan.

Berbagai tindakan oppresive terjadi setiap saat terhadap para TKI kita baik yang masih dalam proses pemberangkatan maupun yang sudah jadi TKI dan sampai pada tataran pulang. Sementara ini pemerintah seperti tidak mau tau akan hal tersebut dan hanya memikirnya dari segi keuntungan yang masuk.

Melalui teori tersebut dalam melihat buruh migran seharusnya bisa berdasarkan teori keseimbangan sosial, dengan seperti itu nantinya akan dapat meminimalisir terjadinya oppresive terhadap TKI. Sebagai pahlawan devisa negara seharusnya melihat dengan cermat akan teori keseimbangan sosial ini. Seberapa besar pengorbanan yang sudah dialami oleh TKI dan pemberian yang sudah diberikan memalui devisa negara, lalu bandingkan seberapa pula pengorbanan dan pemberian yang dilakukan negara dalam melindungi para TKI.

Selain itu juga bagi masyarakat ketika ingin menjadi TKI ke luar negeri harus cermat dalam mempertimbangankan antara komponen pengorbanan, pehargaan, dan hasil akirnya, masih bisa untungkah kira-kira. Kalau dinilai masih untung tidak bermasalah, tetapi kalau tidak, seharusnya bisa mempertimbangkan lebih matang untuk bisa menunda untuk menjadi buruh migran ke luar negeri.